Notification

×

Iklan

Iklan

Abu Bakar ar-Razi: Tokoh Dokter Muslim ang Berpikiran Liberal

Kamis, 20 Maret 2025 | 11.56 WIB Last Updated 2025-03-20T05:05:49Z

Hana Maharani Mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. (Dok. Hana)
OPINI.CO, SURAKARTA - Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi ( 925-935 M ) atau yang lebih dikenal Rhazes di dunia Barat, adalah seorang ilmuan, dokter  dan pemikir bebas dari era Abbasiyah yang terkenal dengan pemikiran kritisnya terhadap agama dan tradisi medis. Ia menekankan pentingnya rasionalitas dan ilmu pengetahuan dalam memahami dunia, sejalan dengan konsep sekularisasi yang berkembang di Eropa pada era Pencerahan.


Sebagai dokter, ar-Razi mengkritik metode diagnostik tradisional dari Hippocrates ( 460-370 SM ) dan Galen ( 129-216 M ), serta mengembangkan pendekatan medis yang lebih empiris dan berbasis pengamatan klinis. Ia juga menulis banyak karya di bidang kedokteran, filsafat , dan kimia, yang sebagian masih dibaca hingga abad ke-16 di Eropa. Dalam kariernya, ia sempat bekerja di Baghdad dan kemudian menetap di Rayy, dimana ia mengelola rumah sakit dan mengajar murid-muridnya dengan metode diskusi terbuka. Meskipun kehilangan penglihatannya di usia tua, ia tetap aktif dalam menulis lewat juru tulisnya.

 

Pemikirannya yang cenderung liberal, terutama dalam menolak dogma agama, membuatnya dikritik oleh banyak pihak. Salah satu karyanya yang terkenal, On the Fradulence of Prophets ( Makharik al-Anbiya’), menyoroti skeptisme terhadap kenabian dan agama. Secara keseluruhan, ar-Razi dikenal sebagai pemikir yang mendukung kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan yang berbasis rasionalitas. Adapun pencapaian besar lain yang didapati oleh ar-Razi, yakni kemampuannya dalam membedakan antara cacar dan campak, sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya. Selain itu, ia menulis sekitar 200 manuskrip yang mencakup berbagai disiplin ilmu, termasuk astronomi dan tata Bahasa. Karya-karyanya sangat berpengaruh dan menjadi rujukan utama dalam pendidikan kedokteran di Eropa pada abad pertengahan.

 

Dalam bidang kimia, ar-Razi dianggap sebagai salah satu ilmuan pertama yang melakukan eksperimen sistematis, yang menjadikannya sebagai salah satu tokoh utama dalam transisi alkimia menuju kimia modern. Ar-Razi tidak hanya melakukan eksperimen dalam skala laboratorium, tetapi juga mendokumentasikan hasil-hasilnya secara sistematis, yang berbeda dari pendekatan mistis para alkimiawan sebelumnya.

 

Salah satu konstribusi terbesarnya adalah penemuan dan pemurnian alkohol melalui distilasi, yang kemudian memiliki banyak aplikasi dalam kedokteran, terutama dalam antiseptik dan pelarut. Ia juga berhasil mengisolasi asam sulfur, yang merupakan salah satu senyawa kimia yang paling penting dalam berbagai industri modern saat ini. Dalam karyanya, kitab al-Asrar (Buku Rahasia) ia menjelaskan berbagai metode dan peralatan kimia yang digunakan dalam eksperimen labolatorium. Ia juga menjelaskan tentang membedakan zat-zat berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, serta mengembangkan berbagai teknik labolatorium, seperti kristalisasi, kalsinasi, dan sublimasi. Buku ini menjadi salah satu rujukan utama bagi para kimiawan di dunia Islam dan Eropa selama berabad-abad.

 

Pendekatannya yang berbasis eksperimen dan observasi sangat berbeda dari tradisi alkimia mistis yang lebih mengutamakan spekulasi filosofis. Alih-alih mencari “batu filsuf” yang dipercaya dapat mengubah logam biasa menjadi emas, ar-Razi lebih fokus pada pemahaman reaksi kimia yang nyata dan aplikatif. Dengan pendekatan ini, ia turut membuka jalan bagi perkembangan kimia sebagai disiplin ilmu yang lebih rasional dan berbasis bukti.

 

Selain dalam bidang kedokteran dan kimia, ar-Razi juga memiliki pandangan filosofis yang kuat. Ia meyakini bahwa akal adalah anugerah Tuhan yang memungkinkan manusia mencapai kebenaran tanpa harus bergantung pada wahyu. Empirisme dan skeptisme filosofis menjadi dasar pemikirannya, membuatnya berbeda dari banyak pemikir muslim pada masanya. Namun, sikapnya yang menolak kenabian dan mu’jizat membuatnya menjadi tokoh yang kontroversial. Salah satu pernyataan paling kontroversial yang dikaitkan dengan dengan ar-Razi adalah bahwa para nabi adalah “penipu” yang menggunakan trik untuk membodohi masyarakat. Namun, kita harus tetap berhati-hati dalam menginterprestasi klaim ini karena tidak semua tulisan aslinya bertahan hingga saat ini, dan banyak gagasannya hanya diketahui melalui kutipan dari para lawannya atau interprestasi sejarawan setelahnya.

 

Adapun ar-Razi mengemukakan konsep “Lima Kekal” dalam ilmu filsafat yang terdiri dari:

  • Tuhan: Sumber segala sesuatu dan pencipta alam semesta.
  • Jiwa Universal: Esensi kehidupan yang ada dalam setiap makhluk hidup.
  • Materi Primer: Substansi dasar yang membentuk segala sesuatu di alam semesta.
  • Ruang Absolut: Tempat di mana semua benda berada.
  • Waktu Tanpa Batas: Dimensi temporal yang melingkupi semua perstiwa.

 

Konsep ini menunjukan pendekatan rasional dan filosofis ar-Razi dalam memahami ekstensi dan alam semesta. Meskipun pandangannya terhadap agama dan kenabian sangat kontroversial, kontroversi ar-Razi dalam ilmu pengetahuan tidak dapat diabaikan. Ia menulis banyak karya dalam bidang kedokteran yang menjadi rujukan utama di dunia Islam dan Eropa selama berabad-abad. Pendekatannya yang mengutamakan observasi dan eksperimen menjadi dasar bagi perkembangan metode ilmiah modern.

 

Secara keseluruhan, ar-Razi adalah adalah seorang pemikir yang menekankan pentingnya akal dan rasionalitas dalam mencari kebenaran. Meskipun pandangannya terhadap agama dan kenabian menimbulkan kontroversi besar, kontribusinya dalam ilmu pengetahuan dan filsafat memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan peradaban manusia.

             

*)Kolom opini.co menerima tulisan opini atau karya sastra untuk umum. Panjang naskah opini maksimal 750 kata.


*)Sertakan riwayat hidup singkat, nama akun medsos, beserta foto cakep, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.


*)Naskah dikirim ke alamat e-mail soearamedianasional@gmail.com.


*)Tulisan opini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi opini.co.


*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang diterima apabila tidak sesuai dengan filosofi opini.co.

 


×
Berita Terbaru Update