![]() |
Ananda Rahmawati Mahasiswi Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. (Dok. Ananda) |
Isfahan adalah salah satu kota besar di dunia karena banyaknya boulevard, jembatan, istana, masjid, dan menara. Selama sejarah Islam, Isfahan menjadi salah satu kota terpenting. Itu pernah menjadi pusat pemerintahan dan pusat peradaban bagi beberapa dinasti, seperti Timurid, Buwaih, Seljuk, dan Syafawi. Pada masa kejayaan Islam, kota itu menjadi pusat perdagangan, ilmu pengetahuan, dan budaya. Ketika Daulah Syafawi memerintah, Isfahan menjadi ibu kota yang indah dan menarik bagi orang-orang dari berbagai latar belakang. Isfahan pada waktu itu disebut sebagai "kota separuh dunia" (Esfahan Nesf-e Jahan) karena keindahannya dan kepopulerannya.
Daulah
syafawi berdiri pada tahun 1501 M, yang merupakan salah satu dinasti
islam yang berpengaruh di Persia yang kini menjadi Iran. Pendiri Daulah
syafawi di Persia adalah Ismail I (1501-1524), yang juga merupakan pendiri
Kerajaan syafawi. Kerajaan syafawi berdiri hingga masa kemundurannya pada
tahun 1736 (Aulia, 2022).
Sejarah Lahirnya Daulah Syafawi
Daulah
syafawi awalnya merupakan Gerakan tarekat syafawiyyah yang berdiri di daerah
Ardabil kota azberbaijan. Tarekat ini didirikan oleh safi al-din, salah satu
keturunan musa al-kazim yang memiliki nasab dengan ali bin abi thalib.
Awal mulanya tarekat ini bertujuan meluruskan orang-orang yang ingkar dan pada akhirnya
memerangi orang-orang yang keluar dari rambu-rambu syari’ah. Tarekat ini
menjadi semakin penting setelah ia berubah bentuk dari pengkajian tasawuf
murni yang bersifat lokal menjadi Gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya
di Persia, syiria dan Anatolia.
Daulah Syafawi di Persia baru berdiri pada waktu Daulah Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaannya. Istilah nama Syafawi ini terus dipertahankan hingga tarekat Syafawiyah menjadi gerakan politik dan menjadi Daulah yang disebut Daulah Syafawi. Pada kenyataannya, Daulah Syafawi berkembang dengan sangat cepat. Di samping itu, Daulah Syafawi kerap kali berselisih dan berbenturan dengan Kesultanan Utsmani.
Daulah Syafawi merupakan peletak dasar berdirinya negara Iran (Persia). Salah satu negara dengan akselerasi teknologi tercepat di dunia. Dari gerakan tarekat yang didirikan di Ardabil,Azerbaijan, Daulah Safawi berasal. Gerakan ini disebut Tarekat Syafawiyah, dan nama pendirinya adalah Shafi al-Din (1252–1334 M.), seorang penganut Syiah, yang menurut ahli sejarah adalah keturunan langsung dari Imam Syiah Itsna 'Asyariah yang ketujuh, Musa Al Kazim (Harisseptian et al., 2024). Dalam perkembangan berikutnya penganut tharekat Syafawiyah sangat fanatik terhadap ajaran-ajarannya. Hal tersebut ditandai dengan adanya itikad yang kuat dari kalangan mereka untuk mendirikan sebuah kekuasaan tersendiri. Dengan dukungan yang kuat dari pengikutnya, lama-kelamaan para pengikut tharekat Syafawiyah membentuk suatu kekuatan yang mandiri, fanatik, dan penuh percaya diri.
Pada
masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M) terbentuklah prajurit yang kuat
dan siap untuk memasuki dunia perpolitikan. Daulah syafawi melebarkan
sayapnya dengan menumbuhkan kegiatan politik di dalam kegiatan-kegiatan
keagamaan. Efek dari gerakan tersebut ternyata menimbulkan konflik dengan
penguasa Kara Koyunlu (salah satu suku Turki) dan kelompok Juneid
dikalahkan dan kemudian Juneid diasingkan.
Tempat
pengasingan Juneid mendapatkan perlindungan dari Diyar Bakr, ia juga suku
bangsa turki yang tinggal di Istana Uzun Hasan, penguasa besar Persia. Tahun
1459 Juneid mencoba merebut Sircassia tetapi dihadang oleh tentara Sirwan
dan ia terbunuh dalam peristiwa pertempuran tersebut. Kepemimpinan Juneid
dilanjutkan oleh anaknya, yaitu Haidar. Haidar menikah dengan cucu Uzun
Hasan, dan dari hasil pernikahannya lahirlah Ismail yang kelak mendirikan
Daulah syafawi di Persia (Harisseptian et al., 2024).
Kemajuan
Daulah Syafawi
Daulah
Syafawi mencapai banyak hal selain politik. Bidang lain juga mengalami kemajuan
besar. Dalam sejarah perjalanan Safawi telah dicapai kemajuan-kemajuan
dalam berbagai bidang antara lain, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan
kebudayaan, militer. Karya-karya yang dibuat dipengaruhi oleh kehadiran
arsitek dan ilmuwan pada zaman itu, yang menjadikannya monument penting
dalam sejarah daulah syafawi. Sampai hari ini, pilar-pilar kemajuan
tersebut masih dapat dilihat dan menjadi destinasi wisata internasional.
Masa kemajuan pada masa Daulah syafawi, diantaranya:
- Bidang Ekonomi: Daulah syafawi menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur yng biasanya di perebutkan oleh negara Belanda, Inggris, dan Perancis, serta sektor pertanian daerah bulan sabit yang sangat subur.
- Bidang Ilmu Pengetahuan Islam: Bangsa persia terkenal dengan bangsa yang memiliki peradaban maju dan berkonstribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika tradisi keilmuan tetap berlanjut pada masa kerajaan syafawi.
- Bidang Pembangunan Fisik dan Seni;Para pemimpin kerajaan ini berhasil menjadikan Isfahan sebagai kota yang menakjubkan. Di sana, berdiri berbagai bangunan-bangunan megah yang besar dan indah, seperti masjid, rumah sakit, sekolah, istana kerajaan, sertan jembatan (Aulia, 2022).
Daulah
Syafawi mencapai puncak kejayaan dibawah kepemimpinan Shah Abbas I.
Keberhasilan ini terlihat dalam sistem pemerintahannya yang stabil dan dinamis.
Pemerintahan Daulah Syafawi berbentuk pemerintahan keluarga yang dihormati,
dengan seorang penguasa yang mendapat dukungan dari keluarga syafawi,
termasuk ulama yiah Itsna Asyariyah serta pasukan militer Ghulam (Muliyani,
2018).
Kemunduran Daulah Syafawi
Kemuduran dan juga akhir dari kerajaan Daulah Syafawi terlihat setelah masa kepemimpinan Abbas I (Aulia, 2022). Sesudah wafatnya Abbas I pada tahun 1628 M, Daulah Syafawi tidak mampu menjaga stabilitas yang telah dicapai oleh Abbas I yang pada akhirnya menyebabkan runtuhnya Daulah Syafawi. Adapun faktor internal yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya Daulah Syafawi terdiri dari hal-hal berikut:
- Pada periode kepemimpinan Syafi Mirza (1628-1742 M) dan Shah Abbas II (1742-1667 M), Administrasi pemerintahan mengalami perubahan, di mana beberapa provinsi kaya ditempatkan langsung dibawah kendali pemerintah pusat dan diperintah langsung oleh Shah Abbas II. Kebijakan ini berdampak negative bagi kerajaan, terutama karena melemahkan kelompok Qizilbash yang sebelumnya berkuasa di berbagai provinsi. Akibatnya, kerajaan kehilangan Sebagian besar kekuatannya. Kelemahan ini tidak segera diatasi, sementara pasukan Ghulam (budak militer) yang menggantikan Qizilbash tidak memiliki kemampuan tempur setara, sehingga semiakin memperlemah kerajaan.
- Terjadinya konflik internal, seperti perebutan kekuasan dalam kerajaan yang diakibatkan oleh sistem tradisi penunjukan raja.
- Dekandesasi moral dan sifat kejam para pemimpin, sperti syafi Mirza yang tanpa ragu mengeksekusi pejabat tinggi kerajaan, menjadi faktor utama melemahnya pemerintahan. Selain itu, Abbas II dan sulaiman yang gemar mabuk dan kurang peduli terhadap kondisi kerajaan menyebabkan rakyat menjadi acuh tak acuh terhadap pemerintahan (Harisseptian et al., 2024).
Daulah
Syafawi adalah dinasti yang memiliki peran besar dalam sejarah peradaban Islam,
khususnya di Persia (Iran). Bermula dari tarekat Syafawiyyah, Daulah
Syafawi berkembang menjadi kekuatan politik yang signifikan, berkonflik
dengan Kesultanan Utsmani, dan akhirnya membentuk Iran sebagai negara
berbasis Syiah. Pada masa kejayaannya, Daulah Syafawi mencapai kemajuan pesat
dalam berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, seni,
dan arsitektur. Isfahan menjadi pusat peradaban dengan berbagai bangunan megah
dan warisan budaya yang masih bertahan hingga kini. Puncak kejayaan dinasti
ini terjadi di bawah kepemimpinan Shah Abbas I, yang berhasil memperkuat
sistem pemerintahan dan ekonomi. Namun, kemunduran Daulah Syafawi terjadi setelah
wafatnya Shah Abbas I, disebabkan oleh faktor internal seperti konflik
perebutan kekuasaan, melemahnya system administrasi, dan kemerosotan moral para
pemimpin. Ketidakmampuan mempertahankan stabilitas akhirnya menyebabkan
runtuhnya dinasti ini pada tahun 1736.
*)Kolom opini.co menerima tulisan opini atau karya sastra untuk umum. Panjang naskah opini maksimal 750 kata.
*)Sertakan riwayat hidup singkat, nama akun medsos, beserta foto cakep, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*)Naskah dikirim ke alamat e-mail soearamedianasional@gmail.com.
*)Tulisan opini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi opini.co.
*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang diterima apabila tidak sesuai dengan filosofi opini.co.