![]() |
Nisrina Salsabila Kartini Mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. (Dok. Nisrin) |
Pusat kekuasaan umayyah berada di Damaskus, Suriah, kekhalifahan ini mengadopsi sistem pemerintahan dinasti, di mana kepemimpinan diwariskan secara turun-temurun. Pada masa Kekhalifahan Umayyah, wilayah Islam mengalami perluasan yang signifikan, meliputi Timur Tengah, Afrika Utara, dan Andalusia (Spanyol). Kekhalifahan ini berperan penting dalam menyebarkan Islam dan budaya Arab ke berbagai wilayah baru, serta menjadi penghubung antara peradaban seperti Bizantium, Persia, dan India. Selain itu, era ini juga dikenal dengan berbagai pencapaian di bidang arsitektur, pemerintahan, dan ilmu pengetahuan, menjadikannya salah satu tonggak penting dalam perkembangan peradaban Islam. Kekhalifahan Umayyah didirikan setelah periode Khulafaur Rasyidin dan menjadi kekhalifahan pertama yang berpusat di Damaskus. Ekspansi ini membawa berbagai budaya dan tradisi yang berbeda ke dalam lingkup Islam.
Proses integrasi budaya pada masa Kekhalifahan
Umayyah merupakan salah satu aspek penting dalam sejarah perkembangan peradaban
Islam. Perpaduan ini tidak hanya dipengaruhi oleh ekspansi wilayah dan
kekuasaan, tetapi juga didukung oleh ajaran Islam yang menghormati keberagaman.
Keberadaan Islam di wilayah dengan budaya mapan seperti Persia dan Bizantium
menciptakan ruang untuk dialog dan pertukaran budaya, menghasilkan perubahan
signifikan dalam berbagai bidang kehidupan. Kebijakan pemerintahan Bani Umayyah
yang menggabungkan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam turut mempercepat
proses akulturasi tersebut. Kemajuan dalam bidang seni, seperti arsitektur
Masjid Umayyah di Damaskus, menjadi salah satu bukti nyata keberhasilan
integrasi budaya ini. Di sisi lain, dalam administrasi pemerintahan, model tata
kelola dari Bizantium dan Persia diadaptasi untuk memperkuat stabilitas politik
kekhalifahan. Dengan demikian, integrasi budaya di bawah Kekhalifahan Umayyah
tidak hanya memperluas cakupan politik Islam, tetapi juga memperkaya
nilai-nilai peradabannya. Hal ini membuktikan bahwa Islam mampu berperan
sebagai penggerak peradaban yang inklusif dan progresif, dengan pengaruh yang
masih dapat dirasakan hingga saat ini.
Integrasi budaya di era umayyah terjadi melalui
beberapa cara seperti perdagangan dan pertukaran budaya. Wilayah kekuasaan
Umayyah menjadi pusat perdagangan yang penting, Jalur perdagangan yang
menghubungkan Timur dan Barat memungkinkan pertukaran barang, ide, dan budaya.
Pedagang Muslim berinteraksi dengan berbagai komunitas, memperkenalkan
nilai-nilai Islam sambil mengadopsi elemen-elemen budaya lokal. Kemudian cara
kedua melalui penerimaan dan adaptasi, Kekhalifahan Umayyah dikenal karena
toleransinya terhadap budaya dan agama lain. Banyak tradisi lokal yang diadopsi
dan diintegrasikan ke dalam praktik Islam, seperti seni, arsitektur, dan
Bahasa. Dan yang terkahir melalui Pendidikan dan ilmu pengetahuan, Universitas dan
pusat-pusat studi didirikan, yang menarik ilmuwan dari berbagai latar belakang.
Ini menciptakan lingkungan di mana pengetahuan dari berbagai budaya dapat
dipelajari dan dikembangkan.
Adapun dampak Integrasi budaya selama era
Umayyah memiliki dampak yang signifikan, antara lain perkembangan seni dan
arsitektur, Gaya arsitektur Islam yang khas, seperti masjid dan istana,
dipengaruhi oleh elemen-elemen dari budaya Romawi, Persia, dan Bizantium.
Contohnya adalah Masjid Agung Damaskus yang menggabungkan berbagai gaya
arsitektur. Kemudian Bahasa dan sastra, Bahasa Arab menjadi lingua franca di wilayah
kekuasaan Umayyah, dan banyak karya sastra serta ilmiah ditulis dalam bahasa
ini. Pengaruh budaya lokal juga terlihat dalam sastra Arab yang kaya. Toleransi
dan koeksistensi, Meskipun ada tantangan, era Umayyah menunjukkan contoh
koeksistensi antara Muslim dan non-Muslim, yang memungkinkan berbagai komunitas
untuk hidup berdampingan dan saling mempengaruhi. Secara keseluruhan, integrasi
budaya pada masa Dinasti Umayyah menciptakan fondasi yang kuat bagi
perkembangan peradaban Islam dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan di wilayah
yang mereka kuasai. Warisan budaya ini terus berlanjut dan berkembang dalam
sejarah Islam hingga saat ini.
Kesimpulannya, periode kekhalifahan Umayyah
merupakan fase penting dalam sejarah Islam yang ditandai oleh integrasi budaya
yang beragam dan kaya. Dinasti ini tidak hanya berhasil memperluas wilayah
kekuasaannya, tetapi juga mengadopsi serta menggabungkan elemen-elemen budaya
dari berbagai tradisi di wilayah yang ditaklukkan, seperti Persia, Romawi, dan
budaya lokal lainnya. Melalui promosi bahasa Arab, perkembangan seni dan
arsitektur, serta kebijakan toleransi beragama, Bani Umayyah menciptakan
suasana yang mendukung pertukaran budaya dan pengetahuan. Warisan budaya yang
dihasilkan selama era ini tidak hanya memperkaya peradaban Islam, tetapi juga
memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan budaya di wilayah-wilayah
yang mereka kuasai, yang terus berlanjut hingga saat ini.
*)Kolom opini.co menerima tulisan opini atau karya sastra untuk umum. Panjang naskah opini maksimal 750 kata.
*)Sertakan riwayat hidup singkat, nama akun medsos, beserta foto cakep, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*)Naskah dikirim ke alamat e-mail soearamedianasional@gmail.com.
*)Tulisan opini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi opini.co.
*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang diterima apabila tidak sesuai dengan filosofi opini.co