Notification

×

Iklan

Iklan

Islam dan Integrasi Budaya di Era Kekhalifahan Umayyah

Selasa, 18 Maret 2025 | 15.46 WIB Last Updated 2025-03-18T10:16:43Z

Nisrina Salsabila Kartini Mahasiswa Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. (Dok. Nisrin)
OPINI.CO, SURAKARTA -
 Kekhalifahan Umayyah (661–750 M) adalah salah satu kekhalifahan terbesar dalam sejarah Islam yang muncul setelah era Khulafaur Rasyidin. Dinasti Bani Umayyah adalah kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Muawiyah Ibn Abi Sufyan. Ia memulai dinasti ini dengan menolak untuk mengakui khalifah Ali bin Abi Thalib dan memilih untuk berperang. Muawiyah kemudian melakukan perjanjian damai dengan pihak Ali menggunakan strategi politik yang sangat menguntungkan posisinya.  Kekhalifahan Bani Umayyah berlanjut hingga tahun 750 M, ketika mereka digulingkan oleh revolusi Abbasiyah, yang mengklaim hak kekhalifahan berdasarkan keturunan dari paman Nabi Muhammad, Abbas ibn Abd al-Muttalib. Meskipun dinasti ini berakhir, warisan Bani Umayyah tetap berpengaruh dalam sejarah Islam dan perkembangan peradaban di wilayah yang mereka kuasai.

 

Pusat kekuasaan umayyah berada di Damaskus, Suriah, kekhalifahan ini mengadopsi sistem pemerintahan dinasti, di mana kepemimpinan diwariskan secara turun-temurun. Pada masa Kekhalifahan Umayyah, wilayah Islam mengalami perluasan yang signifikan, meliputi Timur Tengah, Afrika Utara, dan Andalusia (Spanyol). Kekhalifahan ini berperan penting dalam menyebarkan Islam dan budaya Arab ke berbagai wilayah baru, serta menjadi penghubung antara peradaban seperti Bizantium, Persia, dan India. Selain itu, era ini juga dikenal dengan berbagai pencapaian di bidang arsitektur, pemerintahan, dan ilmu pengetahuan, menjadikannya salah satu tonggak penting dalam perkembangan peradaban Islam. Kekhalifahan Umayyah didirikan setelah periode Khulafaur Rasyidin dan menjadi kekhalifahan pertama yang berpusat di Damaskus. Ekspansi ini membawa berbagai budaya dan tradisi yang berbeda ke dalam lingkup Islam.

 

Proses integrasi budaya pada masa Kekhalifahan Umayyah merupakan salah satu aspek penting dalam sejarah perkembangan peradaban Islam. Perpaduan ini tidak hanya dipengaruhi oleh ekspansi wilayah dan kekuasaan, tetapi juga didukung oleh ajaran Islam yang menghormati keberagaman. Keberadaan Islam di wilayah dengan budaya mapan seperti Persia dan Bizantium menciptakan ruang untuk dialog dan pertukaran budaya, menghasilkan perubahan signifikan dalam berbagai bidang kehidupan. Kebijakan pemerintahan Bani Umayyah yang menggabungkan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam turut mempercepat proses akulturasi tersebut. Kemajuan dalam bidang seni, seperti arsitektur Masjid Umayyah di Damaskus, menjadi salah satu bukti nyata keberhasilan integrasi budaya ini. Di sisi lain, dalam administrasi pemerintahan, model tata kelola dari Bizantium dan Persia diadaptasi untuk memperkuat stabilitas politik kekhalifahan. Dengan demikian, integrasi budaya di bawah Kekhalifahan Umayyah tidak hanya memperluas cakupan politik Islam, tetapi juga memperkaya nilai-nilai peradabannya. Hal ini membuktikan bahwa Islam mampu berperan sebagai penggerak peradaban yang inklusif dan progresif, dengan pengaruh yang masih dapat dirasakan hingga saat ini.

 

Integrasi budaya di era umayyah terjadi melalui beberapa cara seperti perdagangan dan pertukaran budaya. Wilayah kekuasaan Umayyah menjadi pusat perdagangan yang penting, Jalur perdagangan yang menghubungkan Timur dan Barat memungkinkan pertukaran barang, ide, dan budaya. Pedagang Muslim berinteraksi dengan berbagai komunitas, memperkenalkan nilai-nilai Islam sambil mengadopsi elemen-elemen budaya lokal. Kemudian cara kedua melalui penerimaan dan adaptasi, Kekhalifahan Umayyah dikenal karena toleransinya terhadap budaya dan agama lain. Banyak tradisi lokal yang diadopsi dan diintegrasikan ke dalam praktik Islam, seperti seni, arsitektur, dan Bahasa. Dan yang terkahir melalui Pendidikan dan ilmu pengetahuan, Universitas dan pusat-pusat studi didirikan, yang menarik ilmuwan dari berbagai latar belakang. Ini menciptakan lingkungan di mana pengetahuan dari berbagai budaya dapat dipelajari dan dikembangkan.

 

Adapun dampak Integrasi budaya selama era Umayyah memiliki dampak yang signifikan, antara lain perkembangan seni dan arsitektur, Gaya arsitektur Islam yang khas, seperti masjid dan istana, dipengaruhi oleh elemen-elemen dari budaya Romawi, Persia, dan Bizantium. Contohnya adalah Masjid Agung Damaskus yang menggabungkan berbagai gaya arsitektur. Kemudian Bahasa dan sastra, Bahasa Arab menjadi lingua franca di wilayah kekuasaan Umayyah, dan banyak karya sastra serta ilmiah ditulis dalam bahasa ini. Pengaruh budaya lokal juga terlihat dalam sastra Arab yang kaya. Toleransi dan koeksistensi, Meskipun ada tantangan, era Umayyah menunjukkan contoh koeksistensi antara Muslim dan non-Muslim, yang memungkinkan berbagai komunitas untuk hidup berdampingan dan saling mempengaruhi. Secara keseluruhan, integrasi budaya pada masa Dinasti Umayyah menciptakan fondasi yang kuat bagi perkembangan peradaban Islam dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan di wilayah yang mereka kuasai. Warisan budaya ini terus berlanjut dan berkembang dalam sejarah Islam hingga saat ini.

 

Kesimpulannya, periode kekhalifahan Umayyah merupakan fase penting dalam sejarah Islam yang ditandai oleh integrasi budaya yang beragam dan kaya. Dinasti ini tidak hanya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, tetapi juga mengadopsi serta menggabungkan elemen-elemen budaya dari berbagai tradisi di wilayah yang ditaklukkan, seperti Persia, Romawi, dan budaya lokal lainnya. Melalui promosi bahasa Arab, perkembangan seni dan arsitektur, serta kebijakan toleransi beragama, Bani Umayyah menciptakan suasana yang mendukung pertukaran budaya dan pengetahuan. Warisan budaya yang dihasilkan selama era ini tidak hanya memperkaya peradaban Islam, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan budaya di wilayah-wilayah yang mereka kuasai, yang terus berlanjut hingga saat ini. 

 

*)Kolom opini.co menerima tulisan opini atau karya sastra untuk umum. Panjang naskah opini maksimal 750 kata.


*)Sertakan riwayat hidup singkat, nama akun medsos, beserta foto cakep, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.


*)Naskah dikirim ke alamat e-mail soearamedianasional@gmail.com.


*)Tulisan opini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi opini.co.


*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang diterima apabila tidak sesuai dengan filosofi opini.co

×
Berita Terbaru Update