Notification

×

Iklan

Iklan

Runtuhnya Dinasti Mughal di India

Kamis, 20 Maret 2025 | 11.47 WIB Last Updated 2025-03-20T05:02:17Z

Siska Wahyu Rachmawati Mahasiswa Prodi Psikologi Islam UIN Raden Mas Said Surakarta. (Dok. Siska)
OPINI.CO, SURAKARTA - Dinasti Mughal adalah salah satu dinasti yang besar dalam sejarah India yang mendominasi wilayah Asia Selatan pada abad ke-16 hingga abad ke-18. Dinasti ini di dirikan oleh Babur pada awal masa abad ke-16 setelah mengalahkan Sultan Ibrahim Lodi pada pertempuran Panipati Pertama. Dia adalah putra dari Syekh Umar Mirza yang menjadi penguasa di Ferghan. Sebelum itu, pada tanggan 21 April 1526 M terjadi pertempuran yang sangat dahsyat di Paripat. Hal ini menyebabkan Lodi beserta ribuan pasukannya terbunuh. Zahiruddin Babur kemudian langsung mengikrarkan kemenangannya dan kemudian menegakkan pemerintahannya, dengan demikian berdirilah dinasi Mughal di India.


Kesultanan ini mengalami puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Akbar, Shah Jahan, dan Aurangzeb, yang menandai era pengembangan budaya, intelektual, dan arsitektur yang mengesankan. Dinasti Mughal memperkaya peradaban Islam dengan cara memperluas wilayah kekuasaan mereka, mengembangkan kebudayaan, seni, dan arsitektur. Kemajuan yang dicapai pada masa dinasti Mughal merupakan sumbangan yang sangat berarti dalam menyiarkan dan membangun peradaban Islam di India. Selain itu, di bidang militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat. Mereka terdiri dari pasukan gajah, berkuda, dan meriam. Dinasti Mughal juga membentuk sebuah sistem pemerintahan lokal yang digunakan untuk mengumpulkan hasil pertanian dan melindungi para petani, mereka memajukan pertanian terutama untuk tanaman, rempah-rempah, tembakau, dan kapas. Bukan hanya itu saja, dinasti Mughal juga memberikan banyak sumbangan di bidang ilmu pengetahuan hal ini memiliki dukungan dari penguasa, bangsawan, serta ulama.

 

Setelah selama satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncaknya, Mughal mengalami kemunduran setelah masa kepemimpinan Aurangzeb. Terdapat beberapa faktor bagaimana dinasti Mughal mengalami kemunduran, yaitu konflik antara keluarga Kerajaan yang berkepanjangan dan menyebabkan pengawasan di daerah yang menjadi lemah. Pengawasan yang melemah membuat perusahaan Inggris (EIC) semakin kuat untuk mengangkat senjata mereka dan melawan Mughal. Kemudian Sultan Mughal Syah Alam (19761-1806) membuat perjanjian damai dan menyerahkan Oudh, Orisa, dan Bengal kepada Inggris. Syah Alam pun tutup usia pada tahun 1806 dan dilanjutkan oleh Akbar (1806-1837).

 

Dinasti Mughal mengalami pemberontakan dari berbagai kelompok, beberapa diantaranya adalah umat Hindu dan Sikh, dan serangan dari Raja Ahmad Khan dari Afghanistan. Selain itu, kebijakan pajak yang memberatkan rakyat kecil, dan gaya hidup para elit kerajaan yang sangat boros semakin membuat kondisi ini memburuk. Kemerosotan moral yang disertai dengan gaya hidup hedon/mewah menyebabkan pemborosan anggaran negara. Tidak adanya kejelasan lajur suksesi juga sering menjadi akar konflik dan memicu pertumpahan darah dan kemudian melemahkan stabilitas politik kerajaan. Kebijakan Puritanisme yang diterapkan oleh Sultan Aurangzeb yang memaksakan umat Hindu untuk ikut memeluk ajaran agama Islam dan membuat India menjadi negara Islam dan menyerang praktik sosial dan keagamaan Hindu.


Mereka juga memperlakukan hak Istimewa kepada umat islam, dan diskriminasi terhadap umat Hindu. Kemudian faktor yang selanjutnya yaitu pemaksaan ajaran Syi’ah oleh Muazzam, putra tertua Sultan Aurangzeb yang memicu perlawanan dari berbagai kelompok karena ajarannya yang bertentangan dengan kebijakan yang diterapkan oleh penguasa Mughal sebelumnya. Momentum kehancuran dinasti Mughal yang mencapai puncaknya pada saat Kerajaan Britania berhasil menguasai India melalui kemenangan dalam pertempuran Plassey pada tahun 1757, menandai awal dominasi inggris di anak benua India. Hal ini menjadi faktor utama yang mengakhiri pemerintahan Mughal dan menggantinya dengan kekuasaan kolonial yang berlangsung hingga sampai abad ke-20.

 

Dinasti Mughal mencerminkan siklus peradaban yang tidak selalu berada di atas/ selalu berada di masa kejayaan. Kejayaan juga dapat kita pegang sampai akhir, tetapi dengan cara yang sportif dan tidak merugikan orang lain sampai melakukan tindakan deskriminasi yang menyebabkan pemberontakan. Keberhasilan awal dinasti ini didorong oleh Asabiyyah yang kuat dan kepemimpinannya yang visioner. Sedangkan kemundurannya dijelaskan dalam beberapa faktor.

 

Konflik yang memperebutkan kekuasaan sehingga membuat pengawasan daerah melemah dan menyebabkan berbagai ancaman dari luar yang membahayakan dinasti. Gaya hidup kaum kerajaan elit yang hedon/boros semakin memperparah kondisi ini, sedangkan para rakyat diberikan kebijakan untuk membayar pajak yang memberatkan mereka tetapi kaum kerajaan saja menghamburkan uang untuk kehidupan mereka yang menggunakan uang negara, hal ini saja sudah menghilangkan kepercayaan yang sudah diberikan oleh rakyat. Dinasti Mughal juga kehilangan dukungan dari rakyatnya karena kebijakan Puritanisme yang diterapkan oleh Sultan Aurangzeb yang memaksakan umat Hindu untuk ikut memeluk ajaran agama Islam dan membuat India menjadi negara Islam kemudian menyerang praktik sosial dan keagamaan Hindu.


Mereka juga memperlakukan hak Istimewa kepada umat islam, dan diskriminasi terhadap umat Hindu, padahal sudah sangat jelas bahwa kita tidak diperbolehkan untuk membedakan antara umat yang satu dengan yang lainnya apalagi sampai melakukan deskriminasi dan memberikan hak istimewa kepada umat muslim, sedangkan kepada umat hindu tidak sama sekali. Pemaksaan ajaran Syi’ah oleh Muazzam, putra tertua Sultan Aurangzeb ikut memicu perlawanan dari berbagai kelompok karena ajarannya yang bertentangan dengan kebijakan yang diterapkan oleh penguasa Mughal sebelumnya. Meskipun demikian, dinasti Mughal tetap memberikan konstribusi besar dalam perkembangan peradaban islam di India dan meninggalkan banyak warisan seni dan budaya yang tetap dihargai hingga saat ini. 

 

*)Kolom opini.co menerima tulisan opini atau karya sastra untuk umum. Panjang naskah opini maksimal 750 kata.


*)Sertakan riwayat hidup singkat, nama akun medsos, beserta foto cakep, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.


*)Naskah dikirim ke alamat e-mail soearamedianasional@gmail.com.


*)Tulisan opini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi opini.co.


*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang diterima apabila tidak sesuai dengan filosofi opini.co.

×
Berita Terbaru Update