Notification

×

Iklan

Iklan

Usamah bin Zaid: Sang Panglima Perang Termuda Zaman Rasulullah SAW

Senin, 17 Maret 2025 | 10.48 WIB Last Updated 2025-03-17T03:51:14Z

Zarifah Qurrota'aini Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. (Dok. Zarifah) 

OPINI.CO, SURAKARTA - Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdil 'Uzza bin Yazid bin Umrul Qais (أُسَامَة ٱبْن زَيْد بن حارثة بن شراحبيل بن كعب بن عبد العزى بن يزيد بن امرئ القيس) adalah salah seorang pemeluk Islam paling awal dan pembantu Nabi Muhammad. Mendapat julukan terhormat yaitu "Hibbu Rasulillah" (orang yang dicintai Rasulullah).

 

Usamah bin Zaid merupakan salah satu figur penting dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai panglima perang termuda pada zaman Rasulullah SAW. Ia merupakan anak dari sahabat terkenal yang pernah menjadi anak angkat Nabi Muhammad yaitu Zaid bin Haritsah, secara nasab ia masih termasuk dari keturunan Bani Kalb, sedangkan Ibunya yaitu Ummu Aiman, merupakan salah seorang yang merawat Nabi Muhammad sewaktu kecil. sehingga akhirnya Ia mendapat julukan lain yaitu "al-Hibbu ibnu al-Hibbi" (anak tersayang dari yang tersayang). Wafat pada tahun 54 H di Madinah.

 

Pada usia yang sangat muda, Rasulullah SAW telah menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada Usamah, suatu hal yang langka bagi seorang pemuda pada saat itu. Di usia 17 tahun, Usamah diberi amanah sebagai panglima pasukan untuk memimpin ekspedisi ke Syam. Kepercayaan ini diberikan bukan tanpa alasan. Meskipun usianya masih sangat belia, keberanian dan kematangan tindakannya dalam medan perang telah menunjukkan betapa besar kepercayaan yang diberikan kepadanya oleh Rasulullah SAW.

 

Usamah bin Zaid dikenal sebagai sosok yang penuh dengan kecerdasan strategis, keberanian yang tak kenal takut, serta kepatuhan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Melalui kepemimpinannya, ia berhasil memimpin pasukannya dengan baik dan meraih kemenangan dalam berbagai pertempuran. Dedikasinya yang tinggi dalam menyebarkan ajaran Islam dan melindungi umat Muslim menjadikannya sebagai contoh teladan bagi generasi Islam selanjutnya.

 

Usamah bin Zaid, panglima perang termuda di zaman Rasulullah SAW, bukan hanya dikenal karena keberanian dan kepemimpinannya di medan perang, tetapi juga karena pengaruhnya yang signifikan terhadap perkembangan Islam, meskipun secara tidak langsung dan lebih bersifat contoh teladan. Pengaruhnya dapat dilihat dari beberapa aspek:

  • Menjadi Simbol Kepemimpinan Muda yang Berkompeten: Penunjukan Usamah sebagai panglima pada usia muda oleh Rasulullah SAW merupakan bukti kepercayaan Nabi terhadap potensi kaum muda Muslim. Ini menjadi inspirasi dan contoh bagi generasi selanjutnya bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai posisi kepemimpinan dan berkontribusi besar bagi umat. Kisah Usamah mendorong semangat kepemimpinan di kalangan pemuda Muslim, menunjukkan bahwa bakat dan dedikasi lebih penting daripada usia.
  • Penguatan Militer dan Ekspansi Dakwah: Kepemimpinan Usamah dalam ekspedisi militer, meskipun singkat, berkontribusi pada penguatan kekuatan militer Islam dan perluasan dakwah. Kemenangan-kemenangan yang diraih di bawah kepemimpinannya memperluas wilayah kekuasaan Islam dan memperkuat posisi kaum Muslim. Ini secara tidak langsung memperluas jangkauan ajaran Islam dan memberikan dampak positif terhadap perkembangannya.
  • Menjadi Contoh Ketaatan dan Kesetiaan: Ketaatan Usamah kepada Rasulullah SAW merupakan teladan penting bagi umat Muslim. Ketaatannya yang sempurna, bahkan dalam situasi yang sulit, menunjukkan pentingnya kepatuhan terhadap pemimpin dan ajaran agama. Sikapnya ini menginspirasi generasi selanjutnya untuk senantiasa taat dan setia kepada ajaran Islam dan pemimpin-pemimpin yang adil.
  • Warisan Kepemimpinan yang Berbasis Iman: Kepemimpinan Usamah bukan hanya berbasis strategi militer, tetapi juga didasarkan pada nilai-nilai keimanan yang kuat. Ia memimpin dengan adil, bijaksana, dan penuh rasa tanggung jawab. Hal ini menjadi contoh kepemimpinan yang ideal bagi para pemimpin Muslim di masa mendatang, menekankan pentingnya integritas dan keimanan dalam memimpin.

 

Meskipun tidak terdapat catatan panjang dan detail tentang kontribusi politik atau teologis Usamah secara langsung, pengaruhnya terhadap perkembangan Islam bersifat mendalam dan berkelanjutan melalui teladan kepemimpinan, ketaatan, dan keberaniannya. Dengan keberanian, keteguhan, dan kesetiaan yang ia tunjukkan dalam setiap tindakannya, Usamah bin Zaid telah meninggalkan jejak yang abadi dalam sejarah Islam sebagai salah satu panglima perang terkemuka yang pernah ada. Kontribusinya yang besar dalam memperluas keberadaan Islam serta mempertahankan umat Muslim membuat namanya tetap dikenang hingga saat ini sebagai sosok inspiratif bagi umat Islam di seluruh dunia.

 

Kisah Usamah bin Zaid mengajarkan kepada pemuda masa kini bahwa usia muda bukanlah halangan untuk berkontribusi dan memegang tanggung jawab besar. Pemuda adalah masa keemasan yang Allah anugerahkan untuk melakukan banyak hal positif dan berarti. Keteladanan Usamah mengajarkan bahwa seorang pemuda harus memiliki kualitas keberanian, keimanan, serta sikap pantang menyerah dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Keberanian Usamah dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk di zaman sekarang, seperti keberanian dalam membela kebenaran, ketulusan dalam menjalani pendidikan, dan keteguhan dalam menegakkan prinsip.

 

Para pemuda di era modern diharapkan untuk mengambil semangat Usamah dengan cara menghadapi tantangan kehidupan dengan keberanian moral, melawan hal-hal yang bisa merusak karakter seperti kemalasan, pergaulan bebas, atau sikap apatis. Usamah mengajarkan bahwa kepahlawanan adalah memiliki integritas, komitmen pada kebenaran, serta dedikasi untuk berkontribusi pada masyarakat.


*)Kolom opini.co menerima tulisan opini atau karya sastra untuk umum. Panjang naskah opini maksimal 750 kata.


*)Sertakan: riwayat hidup singkat, nama akun medsos, beserta foto cakep, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.


*)Naskah dikirim ke alamat e-mail soearamedianasional@gmail.com.


*)Tulisan opini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi opini.co.

*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang diterima apabila tidak sesuai dengan filosofi opini.co.

×
Berita Terbaru Update