![]() |
Zarifah Qurrota'aini Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. (Dok. Zarifah) |
Usamah bin Zaid merupakan salah satu figur penting dalam sejarah
Islam yang dikenal sebagai panglima perang termuda pada zaman Rasulullah SAW. Ia
merupakan anak dari sahabat terkenal yang pernah menjadi anak angkat Nabi Muhammad
yaitu Zaid bin Haritsah, secara nasab
ia masih termasuk dari keturunan Bani Kalb, sedangkan Ibunya yaitu Ummu Aiman, merupakan
salah seorang yang merawat Nabi Muhammad sewaktu kecil. sehingga akhirnya Ia
mendapat julukan lain yaitu "al-Hibbu ibnu al-Hibbi" (anak
tersayang dari yang tersayang). Wafat pada tahun 54 H di Madinah.
Pada usia yang sangat muda, Rasulullah SAW telah menunjukkan
kepercayaan yang mendalam pada Usamah, suatu hal yang langka bagi seorang
pemuda pada saat itu. Di usia 17 tahun, Usamah diberi amanah sebagai panglima
pasukan untuk memimpin ekspedisi ke Syam. Kepercayaan ini diberikan bukan tanpa
alasan. Meskipun usianya masih sangat belia, keberanian dan kematangan
tindakannya dalam medan perang telah menunjukkan betapa besar kepercayaan yang
diberikan kepadanya oleh Rasulullah SAW.
Usamah bin Zaid dikenal sebagai sosok yang penuh dengan kecerdasan
strategis, keberanian yang tak kenal takut, serta kepatuhan yang tinggi
terhadap ajaran Islam. Melalui kepemimpinannya, ia berhasil memimpin pasukannya
dengan baik dan meraih kemenangan dalam berbagai pertempuran. Dedikasinya yang
tinggi dalam menyebarkan ajaran Islam dan melindungi umat Muslim menjadikannya
sebagai contoh teladan bagi generasi Islam selanjutnya.
Usamah bin Zaid, panglima perang termuda di zaman Rasulullah SAW,
bukan hanya dikenal karena keberanian dan kepemimpinannya di medan perang,
tetapi juga karena pengaruhnya yang signifikan terhadap perkembangan Islam,
meskipun secara tidak langsung dan lebih bersifat contoh teladan. Pengaruhnya
dapat dilihat dari beberapa aspek:
- Menjadi Simbol Kepemimpinan Muda yang Berkompeten: Penunjukan Usamah sebagai panglima pada usia muda oleh Rasulullah SAW merupakan bukti kepercayaan Nabi terhadap potensi kaum muda Muslim. Ini menjadi inspirasi dan contoh bagi generasi selanjutnya bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai posisi kepemimpinan dan berkontribusi besar bagi umat. Kisah Usamah mendorong semangat kepemimpinan di kalangan pemuda Muslim, menunjukkan bahwa bakat dan dedikasi lebih penting daripada usia.
- Penguatan Militer dan Ekspansi Dakwah: Kepemimpinan
Usamah dalam ekspedisi militer, meskipun singkat, berkontribusi pada
penguatan kekuatan militer Islam dan perluasan dakwah.
Kemenangan-kemenangan yang diraih di bawah kepemimpinannya memperluas
wilayah kekuasaan Islam dan memperkuat posisi kaum Muslim. Ini secara
tidak langsung memperluas jangkauan ajaran Islam dan memberikan dampak
positif terhadap perkembangannya.
- Menjadi Contoh Ketaatan dan Kesetiaan: Ketaatan
Usamah kepada Rasulullah SAW merupakan teladan penting bagi umat Muslim.
Ketaatannya yang sempurna, bahkan dalam situasi yang sulit, menunjukkan
pentingnya kepatuhan terhadap pemimpin dan ajaran agama. Sikapnya ini
menginspirasi generasi selanjutnya untuk senantiasa taat dan setia kepada
ajaran Islam dan pemimpin-pemimpin yang adil.
- Warisan Kepemimpinan yang Berbasis Iman: Kepemimpinan
Usamah bukan hanya berbasis strategi militer, tetapi juga didasarkan pada
nilai-nilai keimanan yang kuat. Ia memimpin dengan adil, bijaksana, dan
penuh rasa tanggung jawab. Hal ini menjadi contoh kepemimpinan yang ideal
bagi para pemimpin Muslim di masa mendatang, menekankan pentingnya
integritas dan keimanan dalam memimpin.
Meskipun tidak terdapat catatan panjang dan detail tentang kontribusi
politik atau teologis Usamah secara langsung, pengaruhnya terhadap perkembangan
Islam bersifat mendalam dan berkelanjutan melalui teladan kepemimpinan,
ketaatan, dan keberaniannya. Dengan keberanian, keteguhan, dan kesetiaan yang
ia tunjukkan dalam setiap tindakannya, Usamah bin Zaid telah meninggalkan jejak
yang abadi dalam sejarah Islam sebagai salah satu panglima perang terkemuka
yang pernah ada. Kontribusinya yang besar dalam memperluas keberadaan Islam
serta mempertahankan umat Muslim membuat namanya tetap dikenang hingga saat ini
sebagai sosok inspiratif bagi umat Islam di seluruh dunia.
Kisah Usamah bin Zaid mengajarkan kepada pemuda masa kini bahwa
usia muda bukanlah halangan untuk berkontribusi dan memegang tanggung jawab
besar. Pemuda adalah masa keemasan yang Allah anugerahkan untuk melakukan
banyak hal positif dan berarti. Keteladanan Usamah mengajarkan bahwa seorang
pemuda harus memiliki kualitas keberanian, keimanan, serta sikap pantang
menyerah dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Keberanian Usamah dapat
diaplikasikan dalam berbagai bentuk di zaman sekarang, seperti keberanian dalam
membela kebenaran, ketulusan dalam menjalani pendidikan, dan keteguhan dalam
menegakkan prinsip.
Para pemuda di era modern diharapkan untuk mengambil semangat Usamah
dengan cara menghadapi tantangan kehidupan dengan keberanian moral, melawan
hal-hal yang bisa merusak karakter seperti kemalasan, pergaulan bebas, atau
sikap apatis. Usamah mengajarkan bahwa kepahlawanan adalah memiliki integritas,
komitmen pada kebenaran, serta dedikasi untuk berkontribusi pada masyarakat.
*)Kolom opini.co menerima tulisan opini atau karya sastra untuk umum. Panjang naskah opini maksimal 750 kata.
*)Sertakan: riwayat hidup singkat, nama akun medsos, beserta foto cakep, dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*)Naskah dikirim ke alamat e-mail soearamedianasional@gmail.com.
*)Tulisan opini sepenuhnya tanggung jawab penulis, tidak menjadi tanggung jawab redaksi opini.co.
*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang diterima apabila tidak sesuai dengan filosofi opini.co.